MUSIBAH ATAUKAH UJIAN

Bismillahirrahmanirrahim

Dalam menjalani hidup manusia tidak lepas dari yang namanya bahagia ataupun sedih namun kebanyakan manusia melihat semua itu dari sisi kebahagian, jika mereka bahagia mereka dengan bangga mengatakan bahwa” inilah karunia dari tuhan” atau mungkin malah sebagian beranggapan inilah hasil jerih payahku,hasil usaha yang aku lakukan dan dilakukan dengan memamalingkan hati dari kehendak Alloh S.W.T. Lain hal lagi jika mereka mendapat sebuah kesulitan mereka berkata ” tuhan tidak lagi sayang kepadaku “. Dengan sepihak mereka memutuskan masalah ini dengan cepat mereka tidak pernah berfikir apa yang terdapat dibalik semua ini yang difikirkan adalah kalau mereka mendapat kesenengan mereka beranggapan bahwa Alloh S.W.T memang menyayangi mereka jika mereka mendapat yang sebaliknya ? tentu anda sudah tau jawabannya.

Memang Alloh S.W.T menciptakan sesuatu dengan komplit,jika menciptakan senang maka Alloh S.W.T menciptakan susah ataupun dengan yang lainnnya. Memang hidup tak selalu benar dengan angan-angan kita semua telah diatur oleh-NYA baik itu kesenangan ataupun kesulitan semuanya merupakan sebuah sapaan AllohS.W.T kepada kita semua, juka kita mendapat sebuah kesenangan sesungguhnya Alloh S.W.T menyapa kita ” hai manusia ? mau berlari kemana kamu dengan kesenanganmu ?“. Jika kita mendapat kesusahan maka sesungguhnya Alloh S.W.T menyapa kita ” hai manusia ? mau berlari kemana kamu dengan kesusahanmu ?” jika mengerti akan arti kita diciptakan kealam dunia ini tentu ketika disapa oleh Alloh S.W.T baik dengan kesenangan atau kesusahan yang diberikan kepada kita tentu kita akan menjawab ” saya akan kepadaMU YA RABBI dengan kesenangan atau kesulitan yang engkau berikan “.

Sebuah kebahagiaan ataupun kesusahan yang diberikanĀ  tentu tidak akan diberikan tanpa adanya suatu alasan tersendiri, adakalanya sebuah UJIAN untuk menguji seorang hamba dalam menerima derajat yang tinggi apakah dia mampu dalam menelan pahit sebelum menelan sesuatu yang menggembirakan ? tidak berbeda dengan ketika menelan sebuah obat apakah kuat atau tidak kita menahan rasa pahit obat itu ? jika kita kuat, tentu setelah itu akan ada sebuah pahala yang besar yang akan kita terima yaitu sebuah kesehatan. Alasan yang kedua adalah PERINGATAN jika ada manusia yang melebihi sesuatu dibatas peraturanNYA tentu akan ada sebuah peringatan sebelum adanya hukuman, adakalanya peringatan dengan kebaikan adakalanya dengan sebuah kesulitan jika dingatkan dengan kesulitan (sakit:misal) tentu kita akan segera sadar akan kesalahan kita tapi jika dengan sebuah kesenangan ??? ada sudah tau jawaban itu. Tapi adakalanya jika diingatkan dengan kesulitan manusia malah tidak semakin dekat denganNYA malah sebaliknya. Yang ketiga alasan tersebut adalah sebuah HUKUMAN ini yang tidak pernah diharapkan sama sekali oleh semua mahluk hidup tidak da yang mengharapkan adanya sebuah hukuman yang diharapkan adalah sebuah kesenangan itu mutlak dan berlaku bagi semua,namun jika anda meluang berfikir sejenak, jika anda mempunyai seorang putra yang mempunyai sebuah kesalahan mencuri benda orang lain dan dia dihukum apakah anda akan ikhlas dan berfikir memang dia pantas mendapatkannya ?? atau malah sebaliknya…… ?? jika sebagai manusia normal tentu anda akan ikhlas dan menyadarinya,tentu dasar hukumnya adalah memang dia bersalah tidak ada hukuman yang di berikan tanpa suatu kesalahan. apakah kita sudah berfikir ?.

Yang terpenting semua hal di atas adalah apapun dari semua bentuk alasan yang terpenting tetap bersabar dan berusaha agar menjadi lebih baik dengan tidak lupa dengan meningkatkan iman kita,tetap mengingat bahwa semua ini dari Alloh S.W.T dan akan kembali pula kepadaNYA. Tetap bersemangat tetap menetapkan langkah untuk menjadi lebih baik serta belapang dada dan memantapkan arah tetap dalam jalur AQIDAH. Semoga kita semua selalu dalam lindunganNYA AMIN YA MUJIBASSAILIN.

ALĀ  Khamdulillah, semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya bagi penulis pribadi ataupun bagi anda semua Amin.

IBU

Assalamu’alaikum wr.wb
Bismillahirahmanirrohim,saat Rosululloh sedang melakukan thawaf,beliau bertemu seorang pemuda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf beliau bertanya kepada pemuda itu, “Kenapa dengan pundakmu itu ?” pemuda itu menjawab, ” Ya Rosululloh,saya dari yaman. Saya mempunyai seorang Ibu yang sudah uzur (tua). Saya sangat mencintainya dan saya tidak pernah melepaskannya. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika saya buang hajat,ketika shalat,atau ketika istirahat,selain itu sisanya saya selalu menggondongnya.”

Kemudian pemuda itu bertanya, “Ya Rosululloh,apakah aku sudah termasuk anak yang berbakti kepada orang tua ?” Rosolulloh Saw sangat terharu mendengarnya,sambil memeluk pemuda itu beliau bersabda, “Sungguh Alloh Ridho kepadamu,kamu anak yang sholeh,anak yang berbakti. Tapi anakku, ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu.”

Kisah tersebut membawa pesan penting bahwa jasa, kasih sayang dan cinta seorang ibu kepada anaknya tidak akan mungkin terbalas dan tidak bisa ternilai dengan apapun. Perjuangan seorang seorang Ibu untuk anaknya, sangatlah luar biasa. Keikhlasan dan ketelatenan dalam merawat anaknya sejak dari kandungan hingga dewasa dan bahkan hingga berkeluarga, senantiasa diberikan. Seorang Ibu rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk kehidupan sang anak. Bahkan, untaian doanya tidak pernah terputus untuk seorang anak. Mereka selalu berharap dan memohon kepada Alloh SWT agar anaknya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Hanya sayang,tidak banyak saat ini kajian-kajian keagamaan yang membahas khusus berkaitan dengan bakti kepada Ibu (orang tua). Sudahkah layak kita disebut anak yang berbakti ? Sementara sikap dan perhatian kita kepada keduanya masih belum menunjukkan tanda-tanda seorang anak yang berbakti ? Sudahkah doa yang kita sampaikan untuk ampunan dan keberkahan hidup mereka menjadi doa utama kita ? Sudahkah waktu dan harta kita juga dinikmati oleh mereka ? Mungkin saat ini kita pun sudah menjadi orang tua,namun kita tetaplah seorang anak hingga kapan pun.

” Benih yang kamu tanam, itulah kelak yang akan kamu panen.” jika kita patuh kepada orang tua, maka kita akan mendapatkan kepatuhan anak kita kelak. Akan tetapi jika sebaliknya ???. Setelah membaca sedikit coretan ini marilah kita sejenak merenung tentang bantahan-bantahan yang telah kita ucapkan ketika kita mendapatkan perintah Ibu kita. Kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan terhadap ibu, dan jika sekarang kita masih diberi kesempatan untuk memeluk tubuh rentanya maka peluklah dan minta maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Mohon doanya agar kita tetap menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Karena jika kita tubuh renta itu sudah terbujur kaku tak berdaya, kita tidak bisa lagi mencium tangan saat kita akan berangkat sekolah, ke pondok, maupun ke tempat lain. Tidak ada belaian lembut saat kita akan tertidur, yang ada hanya gambar kusamnya terpampang di dinding yang mulai rapuh.

” Ya Alloh ! Ampunilah aku, Ibu-Bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Al-Khamdulillah, Wassalamu’alaikum wr.wb

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.